Kebutuhan manusia terhadap pendidikan

Hampir semua orang dikenai pendidikan dan melaksanakan pendidikan. Sebab pendidikan tidak pernah terpisah dari kehidupan manusia. Tidak dibedakan apakah sudah tua atau anak-anak, dewasa atau remaja, sudah uzur atau balita. Semuanya sama. Sama-sama dilibatkan atau melibatkan diri dalam pendidikan.

Keterlibatan ini berawal sejak ia dilahirkan, dan berakhir tatkala kematian merenggut jiwanya. Ada 3 peran pendidikan yang harus digapai oleh anak manusia seoptimal dan semaksimal mungkin selama hidup:

  1. Setiap insan haruslah mampu memanusiakan dirinya.

Setiap insan hendaklah dapat meninggikan harkat kemanusiaan. Menunjukkan secara nyata bahwa mereka manusiawi.

a.   Kebenaran dan makhluk yang bernama manusia

Al insaanu hayawaanun ‘aaqil, manusia adalah hewan yang berakal, begitu kata orang bijak. Dengan akalnyalah manusia dapat berpikir. Dengan berpikir manusia bisa membedakan yang baik dan buruk. Dapat pula memisahkan mana yang bermanfaat buat dirinya dan mana yang tidak, atau yang membahayakan dirinya.

Kata hewan dipermisalkan oleh Allah bagi manusia dengan firman-Nya: ulaa’ika kal an’aam, manusia-manusia itu seperti hewan. Manusia yang manakah? Yaitu mereka yang punya mata tapi tak dapat melihat kebenaran dengan mata itu, mereka punya telinga tapi tak bisa mendengar kebenaran dengan telinga itu, dan mereka punya hati tapi tak mampu memahami kebenaran dengan hati itu. Dengan arti kata akal mereka belum berfungsi dengan benar.

Kemiripan manusia dengan hewan pada kepemilikan bentuk-bentuk fisik. Keduanya sama-sama memiliki telinga, kulit, mata, hati dan lain-lain. Apakah bermanfaat pada hewan tatkala disampaikan kebenaran kepada mereka? Seperti berbuat adillah sesamamu!

Tidak. Sekali-kali tidak. Karena yang ada pada mereka tubuh kasar tanpa dibekali akal, tempat mereka berpikir.

Berbeda dengan manusia. Bila diminta mereka untuk berlaku adil, akan mengerti. Karena akal dan pikiran yang dilebihkan kepada mereka atas binatang.

Pendidikan dimaksud untuk menjadikan mereka benar-benar sebagai manusia dan berkemanusiaan. Manusia dan kemanusiaan itu hendaknyalah sejalan. Sama langkah dalam melalui tahap-tahap kehidupan sepanjang hayat.

Kemanusiaan identik dengan budi pekerti, akhlak, atau moralitas.  Keterlibatan manusia dalam pendidikan mestilah diarahkan untuk peningkatan budi pekerti dan akhlak. Kalau tidak belumlah berhasil manusia itu menamai dirinya sebagai manusia sejati.

b.   Memanusiakan anak manusia.

Anak manusia akan menjadi manusia hanya bila ia menerima pendidikan. Anak manusia bila dibesarkan oleh seekor binatang di tengah hutan akan bertingkah seperti binatang sebab tingkah laku binatang itulah yang sempat ia tiru. Dalam hal ini jelaslah bahwa ia tidak menjadi manusia baik ditinjau dari segi penampilan maupun dari segi kejiwaan. Oleh sebab itu, untuk membuat anak manusia menjadi manusia mutlak diperlukan pendidikan.

Binatang hidup dengan insting, atau naluri. Insting, atau naluri adalah suatu pembawaan sejak lahir yang tidak perlu dipelajari terlebih dahulu. Yang termasuk insting manusia antara lain sikap melindungi anak, rasa cinta terhadap anak, bayi menangis, kemampuan menyusu air susu ibu, dan merasakan kehangatan dekapan ibu.

Seiring dengan perkembangan pikiran anak manusia tersebut, semakin berkembang pulalah sikapnya terhadap keluarga dan lingkungan. Orang tua sangat berperan mengarahkan anak ini menuju kesempurnaan pada tiap tahap kehidupannya, dan juga sangat dominan meningkatkan hidup sang anak dari cara yang alamiah menjadi berbudaya.

      2.  Setiap insan harus berhasil membudayakan dirinya.

Sebenarnya manusia itu memiliki perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan ke arah yang lebih baik yang dipunyai manusia merupakan modal utama menuju cara hidup yang lebih layak. Cara hidup yang sudah berhasil dikembangkan oleh manusia itu dinamakan budaya.

Prof. Dr. Made Pidarta menyatakan bahwa budaya adalah segala hasil pikiran, perasaan, kemauan, dan karya manusia secara individual atau kelompok untuk meningkatkan hidup dan kehidupan manusia.

Manusia sebagai subjek dan sekali gus objek kebudayaan memiliki beragam dimensi selain dimensi  pikiran, perasaan, kemauan, dan karya  sebagai diungkapkan oleh Prof. Dr. Made Pidarta di atas.

Prof. Hj. Zakiah Daradjat, dalam bukunya pendidikan islam dalam keluarga dan sekolah menyebutkan bahwa bila dikaitkan dengan pendidikan maka dimensi-dimensi manusia itu ada tujuh ragam, yaitu dimensi fisik, akal, iman, akhlak, kejiwaan, keindahan, dan sosial-kemasyarakatan.

Masih banyak lagi dimensi-dimensi manusia yang lain. Mulai dari perkembangan kesehatan, keterampilan, motivasi, niat dan macam-macam yang lain.

Begitulah manusia dibebani tanggung jawab pada tiap dimensi tubuhnya. Tanggung jawab itu berupa mengisi tiap dimensi agar tumbuh ke arah kesempurnaan. Supaya tujuan tanggung jawab ini tercapai secara baik maka tiap dimensi mestilah didasari oleh kebudayaan.

Ada lima komponen utama kebudayaan, yaitu gagasan, ideologi, norma, teknologi, dan benda. Komponen satu sampai empat bersifat abstrak, sedangkan terakhir bersifat konkrit. Komponen gagasan misalnya tentang penegakan syariat islam dan kembali ke surau. Komponen ideologi misalnya ideologi Pancasila, Pluralisme, dan Islam. Contoh-contoh norma antara lain sikap hormat kepada orang tua, menghargai pendapat orang lain. Teknologi misalnya teknologi hujan buatan, prinsip pembanguan jalan layang, prinsip membuat kendaraan yang digerakkan oleh energi matahari. 

Kebudayaan erat kaitannya dengan pendidikan. Kebudayaan diwujudkan setelah adanya pendidikan. Pendidikan yang baik menghasilkan kebudayaan yang baik. Sebaliknya pendidikan yang tidak berkualitas berdampak pada kebudayaan yang bobrok. Jadi Pendidikan membuat orang berbudaya.

Pendidikan dan budaya ada bersama dan saling memajukan. Makin banyak orang menerima pendidikan makin berbudaya orang itu. Dan makin tinggi kebudayaan makin tinggi pula pendidikan atau cara mendidik orang tersebut.

Mendidik orang berarti meningkatkan mutu jasmani dan rohani orang tersebut menuju kondisi yang lebih sempurna lagi bermartabat. Disamping itu mendidik orang sekali gus berarti mempertahankan kebudayaan yang telah ada. Berbicara mengenai mempertahankan kebudayaan ini menyangkut memelihara kelanjutan hidup manusia.

     3.   Setiap insan harus berupaya memelihara kelanjutan hidupnya.

Cara hidup yang sudah ada diupayakan untuk dipertahankan. Yang dipelihara itu adalah kuantitasnya. Jika seorang menejer yang baru diangkat sudah mempunyai aset perusahaan senilai sembilan ratus juta rupiah. Tugas pokoknya yaitu memelihara aset ini agar tidak mengalami penyusutan.

Disamping kuantitas, yang tidak kalah penting untuk dipertahankan yaitu kualitasnya. Kualitas ialah mutu hidup dan kehidupan. Bila dalam bulan ini seorang anak dapat makan empat sehat lima sempurna, dimana selain daging, sayur, nasi, dan buah, ditambah pula dengan susu, sehingga dengan susu mutu makanan yang masuk lebih terjamin, pada bulan-bulan mendatang ini sebaiknya terus dipelihara.

Jika buku-buku seorang guru dirapikan, kebersihan ruangan dan perangkat mengajarnya terjaga, keindahan tata letak barang-barang dan benda-bendanya diatur, maka semua ini lanjut diterapkan.

Manakala pelaksanaan kegiatan seorang pemimpin sudah tepat waktu dan sasaran sesuai dengan program kerja yang telah direncanakan, maka pengabadian mutu hidup serupa ini layak dan harus dipertahankan.

Segala bentuk ril kuantitas dan kualitas hidup apabila dipandang dari aspek pendidikan modern ada dua paradigma:

  1. manusia yang belum sampai ke taraf seperti itu dibekali dengan ilmu, baik ilmu mengenai aspek kejasmanian ataupun aspek kerohanian, dan
  2. yang telah berjalan di atasnya, agar terus mengembangkan.

Dimensi apapun dari dimensi-dimensi manusia berupayalah selalu agar apa yang sudah ada dapat pula dikembangkan. Sehingga semakin tercipta keadaan yang lebih bagus, budaya yang lebih baik pada dimensi yang bersangkutan. Dimensi yang sudah mapan diupayakan untuk terus dimekarkan, sementara yang belum mapan perlu dibekali dengan alat berupa ilmu. Pemekaran dimaksud supaya tercipta ilmu baru. Ilmu baru artinya budaya yang makin berkemajuan. Pembekalan dengan ilmu ditujukan agar tercapai titik kemapanan. Kemapanan dan budaya yang makin berkemajuan  adalah sasaran akhir pada tiap pendidikan di setiap dimensi manusia. Tak dibedakan manusia jenis apakah ia. Selagi ia bernama manusia dan dilahirkan dari perut manusia maka ia berhak memperoleh hasil pendidikan seperti ini.

Kata John Dewey, makhluk hidup memelihara kelanjutan hidupnya agar tercipta pembaruan dalam dirinya. Pembaruan hanya dapat berlaku, manakala manusia sebagai subjek kehidupan berani try and try, coba dan mencoba. Hal yang baru yang didapati dari pengalaman yang banyaklah yang akan menghasilkan pembaruan yang berkualitas. Pengalaman yang banyak adalah akibat sering melakukan percobaan, tidak sedikit mengembangkan pengamatan dan penelitian di samping tetap mempertahankan yang sudah dimiliki.

Penutup

Sesungguhnya keterlibatan manusia dalam pendidikan adalah suatu keniscayaan yang melekat pada dirinya. Manusia tidak dapat tidak mesti berpacu memupuk dirinya dengan pengalaman. The experience is the best teacher, pengalaman adalah guru yang paling baik. Pengalaman itu ada dua modelnya, pertama teoritis, kedua praktis. Pengalaman teoritis diperoleh melalui membaca, mendengar, serta melihat yang dilakukan oleh orang lain hingga diri sendiri pun berhasil menyimpulkan secara teori tentang cara atau metode pelaksanaannya. Pengalaman praktis didapati dengan amal diri. Amal diri yakni diri sendiri melakukan, mengalami kejadian, kemudian berinprovisasi dan menilai pengalaman itu dari segi kebenaran serta ketepatan, seterusnya menetapkan yang tepat serta yang benar dan mengabaikan yang keliru serta yang salah, untuk selanjutnya yang terakhir konsisten memelihara yang sudah ditetapkan itu dalam melakukan hal yang sama di lain tempat dan waktu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Al Qur’aanul Karim

 

Daradjat, Zakiah, 1994, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, cet. 1 Ruhama, Jakarta

 

Pidarta, Made, 1997,  Landasan Pendidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia,    Cet. 1 Rineka Cipta, Jakarta

 

Prasetya, 2002, Filsafat Pendidikan, Cet. 2 Pustaka Setia, Bandung.

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: