Konsep Pendidikan Seumur Hidup

Pengantar

Konsep pendidikan seumur hidup didasari dari sabda Rasulullah s.a.w. yang artinya: “tuntutlah ilmu itu dari buaian sampai ke liang lahad”

Bila kita kaitkan dengan sabda Nabi s.a.w yang lain yang artinya: “setiap yang dilahirkan itu terlahir/dilahirkan dalam keadaan fitrah/suci”. Suci maksudnya belum ternoda oleh dosa dan kesalahan kepada sang khalik.

Maka dengan demikian ada isyarat dalam ajaran agama islam itu bahwa manusia sejak ia bayi sudah harus mempertahankan kefitrahannya/kesuciannya dari noda dan perbuatan dosa kepada Penciptanya sampai ia meninggalkan dunia fana.

Pemertahanan kesucian itu terwujud dalam islam berupa sebelum seseorang akil baligh (masa dimana beban tanggungjawabnya sebagai hamba Allah sudah dipikul, bila berbuat taat mendapat pahala, dan jika berbuat kemaksiatan mendapat dosa dari Allah) ia dianggap belum lagi ternoda dan belum ditimpakan kesalahan yang ia perbuat kepadanya.

Oleh karenanya seorang manusia sebelum ia akil baligh dituntut menyerap ilmu yang baik agar dapat kritis terhadap lingkungannya termasuk ayah dan ibunya. Ketika seorang anak Sekolah Dasar sudah menuntut ilmu tentang do’a sebelum makan dan saat pulang dirumah ia dapati kedua orang tuanya belum lagi membaca do’a, anak ini diminta untuk menyampaikan kepada orang tuanya sebab sang anak sudah berilmu. Ilmu yang baik dan sikap kritis ini sejak dini harus diupayakan oleh setiap individu untuk persiapannya dalam perjuangan yang lebih berat dan penuh resiko mulai ia akil baligh sampai kehidupannya terakhir di dunia

Lima Konsep Kunci dalam Pendidikan Seumur Hidup

1.  Konsep pendidikan seumur hidup itu sendiri

Konsep pendidikan seumur hidup diartikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman-pengalaman pendidikan. Pengalaman pendidikan sang anak tentang ilmu do’a yang ia peroleh haruslah ia bangunkan untuk pengejawantahan dan penerapan ilmu itu bagi dirinya dan keluarganya serta lingkungannya, sebab untuk sebuah ‘penerapan lah’ suatu ilmu dituntut.

2.  Konsep belajar seumur hidup.

Belajar seumur hidup diartikan bahwa seseorang dapat belajar dan berkewajiban mengajar agar ia dapat ilmu baru karena mengajarkan ilmu, tidak hanya di sekolah tapi juga dari orang-orang yang berpengalaman di bidang ilmu yang kita butuhkan.

3.  Konsep pelajar seumur hidup.

Pelajar seumur hidup diartikan sebagai bahwa saat tiap nafas yang ia tarik dan hembuskan padanya ada kewajiban pada peningkatan cara menghadapi dunia. Menghadapi dunia yang terus berkembang tidak dapat kecuali hanyalah dengan penambahan ilmu beserta pengalaman kehidupan. Menjadikan tiap gerak dan langkah guna penambahan ilmu serta pengalaman itulah yang dimaksud dengan sebagai kesadaran bahwa ia adalah seorang pelajar seumur hidup.

4.  Konsep bahwa pendidikan seumur hidup merupakan tanggung

jawab  pribadi seserang dari buaian sampai ke liang lahat.

Dalam rangka mempertahankan kesuciannya seseorang dituntut untuk aktif dalam setiap kesempatan. Sementara orang tua dan keluarga serta lingkungan termasuk pemerintah berkewajiban untuk memfasilitasi seseorang. Orang tua memasukkan anaknya ke  sekolah yang baik, pemerintah membangun sekolah yang baik, masyarakatpun demikian mengawasi pelaksanaan Proses Belajar Mengajar (PBM) pada sebuah sekolah. Namun hakekat lebih luas dari itu, sekolah bukan hanya sekolah formal yang kita alami tapi masyarakat atau tingkah dan pola pemerintah merupakan sekolah yang tak ternilai harganya. Menjanga kesucian tadi adalah dengan mengakrabi tiap individu yang berkompeten dan berwenang, baik pada masyarakat, pemerintah dan keluarga.

5.  Kurikulum yang membantu pendidikan seumur hidup.

Orang tua, masyarakat dan pemerintah perlu mendesain sebuah kurikulum dan situasi dimana dengan masing-masing keduanya itu seorang individu bisa belajar bagaimana hidup dan menghadapi kehidupan masa sekarang begitu pula untuk tujuan di masa mendatang.

Ciri-ciri Pendidikan Seumur Hidup.

Prof. Dr. Umar Tirtarahadja dalam bukunya Pengantar Pendidikan (2005) menuliskan tentang empat ciri-ciri pendidikan seumur hidup, yakni:

  1. Memisahkan tembok pemisah antara pendidikan sekolah dengan lingkungan nyata luar sekolah.
  2. Pendidikan seumur hidup menempatkan belajar bagian integral dari proses hidup.
  3. Pendidikan seumur hidup lebih mengutamakan pembekalan hidup dan metode dari pada isi pendidikan.
  4. Pendidikan seumur hidup menempatkan peserta didik sebagai individu yang menjadi pelaku utama di dalam proses pendidikan yang menyuruh pada pendidikan diri sendiri, atau memiliki kepribadian yang aktif kreatif, tekun, bebas dan bertanggung jawab, tabah, dan tahan banting serta yang sejalan dengan penciptaan masyarakat gemar membaca (learning society)
  5. Pendidikan seumur hidup menegaskan dan menekankan bahwa tiap individu adalah objek dan sekali gus subjek pendidikan. Objek karena ia merupakan orang yang dikenai pengaruh oleh lingkungan  dalam pandangan pendidikan, oleh karenanya hendaklah ia selalu waspada untuk memanfaatkan setiap informasi pengalaman positif dari tempat lingkungannya hidup. Subjek karena ia dituntut untuk mengubah lingkungan menjadi lebih baik dan berkualitas sesuai dengan tuntutan ilmu secara adil dan ideal.
  6. Sejak seseorang sudah akil baligh, ada beban dosa yang akan ia tanggung manakala ia belum berkompeten atau berkemampuan pada profesi yang ia geluti. Sebab pada hakekatnya manusia sudah ditakdirkan memiliki peran tertentu. Ketika itu sudah berlaku pada diri seseorang, ia dituntut untuk profesional sesuai dengan peran yang ia geluti. Karena Muhammad bin Abdullah ditakdirkan sebagai Nabi dan Rasul, dan ia sangat profesional dalam bidangnya.
  7. Keluarga, masyarakat dan pemerintah senantiasa dituntut untuk membuat dan mengarahkan sebuah fasilitas yang sudah ada agar dapat dimanfaatkan oleh tiap individu guna mengembangkan dirinya ke arah personal yang aktif, dinamis, dan terampil sesuai dengan bidang profesinya.

Berbagai Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup

  1. Pendidikan seumur hidup menegaskan dan menekankan bahwa tiap individu adalah objek dan sekali gus subjek pendidikan. Objek karena ia merupakan orang yang dikenai pengaruh oleh lingkungan  dalam pandangan pendidikan, oleh karenanya hendaklah ia selalu waspada untuk memanfaatkan setiap informasi pengalaman positif dari tempat lingkungannya hidup. Subjek karena ia dituntut untuk mengubah lingkungan menjadi lebih baik dan berkualitas sesuai dengan tuntutan ilmu secara adil dan ideal.
  2. Sejak seseorang sudah akil baligh, ada beban dosa yang akan ia tanggung manakala ia belum berkompeten atau berkemampuan pada profesi yang ia geluti. Sebab pada hakekatnya manusia sudah ditakdirkan memiliki peran tertentu. Ketika itu sudah berlaku pada diri seseorang, ia dituntut untuk profesional sesuai dengan peran yang ia geluti. Karena Muhammad bin Abdullah ditakdirkan sebagai Nabi dan Rasul, dan ia sangat profesional dalam bidangnya.
  3. Keluarga, masyarakat dan pemerintah senantiasa dituntut untuk membuat dan mengarahkan sebuah fasilitas yang sudah ada agar dapat dimanfaatkan oleh tiap individu guna mengembangkan dirinya ke arah personal yang aktif, dinamis, dan terampil sesuai dengan bidang profesinya.
DAFTAR PUSTAKA

Ihsan, Fuad, Dasar Dasar Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta

Mudyahardjo, Redja, Januari 2002, Filsafat Ilmu Pendidikan, Suatu Pengantar, Cet. 2 Remaja Rosda Karya

Tirtarahardja, Umar, dan S.L La Sulo 2005, Pengantar Pendidikan Ed. Revisi Cet. 2 , Rineka Cipta Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: